Twenty - Four Eyes - Faiqotul Himmah Awliya
JUDUL RESENSI
IDENTITAS BUKU
SINOPSIS / RINGKASAN ISI BUKU
Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorakporandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Dalam novel ini, Mrs. Oishi yang memiliki dua belas murid mengajarkan mereka tentang kehidupan, nilai- nilai moral, serta menghadapi kesulitan di masa perang. Seiring berjalannya waktu, Mrs. Oishi menyaksikan perubahan besar dalam kehidupan murid-muridnya, mulai dari perpisahan, kematian, hingga penderitaan akibat perang. Namun, melalui semua itu, ia tetap mempertahankan hubungan emosional yang mendalam dengan mereka.
KELEBIHAN/KEUNGGULAN BUKU
Cerita ini menggambarkan kehidupan di Jepang antara periode 1920-an hingga pasca-Perang Dunia II. Dengan latar di pulau kecil, novel ini menggambarkan hubungan antara guru, Mrs.Oishi, dengan murid- muridnya selama masa perubahan sosial dan politik yang besar. Novel ini berhasil menyoroti dampak modernisasi, perang, dan perubahan sosial terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
KEKURANGAN/KELEMAHAN BUKU
Alur yang Lambat bagi sebagian pembaca, alur novel ini mungkin terasa lambat karena fokus pada kehidupan sehari-hari dan pengembangan karakter dalam rentang waktu yang panjang. Novel ini lebih mengutamakan perenungan daripada konflik yang intens, yang mungkin kurang menarik bagi pembaca yang lebih menyukai cerita dengan plot yang cepat atau penuh aksi. Serta banyak nya karakter sehingga lumayan susah untuk di ingat.
KESIMPULAN
Novel ini pada dasarnya mengeksplorasi tema- tema seperti dampak perang terhadap kehidupan seharihari, pentingnya pendidikan, serta kekuatan cinta dan persahabatan dalam menghadapi tragedi. Penulis buku (Sakae Tsuboi) juga memberikan kritik halus terhadap militerisme Jepang dan menggambarkan kesedihan yang dirasakan banyak orang akibat kebijakan pemerintah saat itu.
RESENSATOR : Faiqotul Himmah Awliya
KELAS : X.3
Komentar
Posting Komentar